Tampilkan postingan dengan label desain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label desain. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 September 2010

Desainer Inggris

Beberapa waktu lalu aku sedang asyik-asyik blogwalking dan menemukan sebuah blog karya seorang muslimah berbahasa Inggris, muslimah voices. Salah satu posting-annya adalah tentang desain busana muslimah yang perancangnya adalah pengelola butik maysaa di Inggris sana. Desainnya terlihat menuruti gaya busana anak muda yang bebas dan dinamis, tapi tetap mengikuti kaidah syar'i sebuah busana muslimah. Salah satu karya desainnya kutampilkan di sini, kuambil dari blog muslimah voices, namun berbagai gaya busana lainnya dari Maysaa tentu dapat diakses langsung melalui link berikut ini: www.maysaa.com.

Kamis, 14 Mei 2009

Batik Tak Sampai

Sebuah karya desain yang kuajukan dalam ajang Lomba Rancang Etnik Perempuan Citra tahun 1999, membawaku menjadi salah satu finalis di ajang bertaraf nasional itu. Mengusung tema "Batik Tak Sampai", gara-gara aku malas menggambar detil motif batik, jadilah final desain yang bermotif acak.
Satu set rancangan busana ini membuatku bolak-balik ke studio batik Bandung punyanya pak Hasan (almarhum) untuk membuat beberapa meter kain batik yang kuinginkan. Kuning-coklat, nuansa alam. Berpadu dengan kuning emas atau coklat gelap berkilau, kain sutera dan katun serta sifon yang juga membuatku bolak-balik ke King's textile center di Dalem Kaum. Masih ada lagi bolak-balik lainnya, selain ke ATM untuk mengambil modal kerja (hhh...), juga bolak-balik Bandung-Jakarta untuk bertemu dengan panitia hingga dewan juri.
Aku tidak mendapat gelar apapun di ajang itu, tapi pengalaman, tentu banyak sekali. Setelah event itu, aku memang sempat 'jatuh miskin', tapi jadi sangat kaya dengan pengalaman. Apapun, kusyukuri pengalaman ini. Jadi 'ketagihan' ikutan lomba lagi. Hihi... ;)

Senin, 06 April 2009

Lomba Pertama



Tahun 1999 lalu merupakan 'debut' pertamaku di ajang lomba rancang busana. Rancang Etnik Perempuan Citra. Ajang rancang busana etnik yang kupilih batik dengan judul "Batik Tak Sampai". Simple saja, sebetulnya karena aku malas menggambar detil motif. Makanya motif sengaja kubuat tak selesai. Supaya terdengar agak 'manis', judul pun meniru penggalan pepatah, jadilah "Batik Tak Sampai".


Masuk ke dalam jajaran 10 finalis di ajang lomba berskala nasional itu tentulah satu kebanggaan, dan tak bisa disangkal, kerepotan yang sekaligus menguras tabungan. Ha!!! Waktu itu, kebetulan waktu penyelenggaraannya nyaris bersamaan dengan pembagian rapor anak-anak di sekolah. Wah... kesibukan luar biasa deh pokoknya. Ngolah nilai, nulis rapor, ngasih komentar penyemangat buat anak satu persatu (30 anak, je!), ditambah lagi bolak-balik ke studio batik bandung, tempatku membuat batik, terus dilanjut dengan seri pertemuan dengan penjahit, ngebatik lagi, ke Jakarta lagi untuk fitting, dsb dsb, dan akhirnya... malam final.

Sebagai finalis nomor 10, karya rancang busanaku tampil paling akhir dari keseluruhan peragaan. Aku sempat melihat dengan tenang peragawati-peragawati itu bolak balik di atas panggung, naik-turun catwalk. Sayang, kami tak boleh mengambil gambar dengan flashlight. Sayang banget. Jadi aku tak bisa memotret mereka. Baju-bajuku dibawakan 6 peragawati top Indonesia, dan di bagian akhir, Arzetti bersebelahan denganku, mengenakan salah satu gaun. Sayang, aku tak punya dokumentasi foto apalagi video, padahal siaran ulangnya tayang di salah satu tivi swasta lho. :(