Senin, 27 Juni 2016

Memori Baju Lebaran Masa Lalu

Sudah jadi tradisi rasanya, bahwa setiap jelang Idul Fitri umat Islam berbondong-bondong ke pusat perbelanjaan atau pasar tradisional, tidak hanya untuk belanja kebutuhan sehari-hari yang dialokasikan untuk keperluan dapur, tapi juga berburu bahan pakaian atau pakaian jadi untuk 'bekal lebaran'. Pasar penuh dengan ibu-ibu!!! Semangat mereka untuk membahagiakan keluarganya di akhir Ramadhan, makin berkobar di 10 hari terakhir. Ini mengingatkanku pada masa kecil dulu...
Saat kami masih kecil-kecil, ibu pun tak kalah semangat untuk membahagiakan kami, 4 putrinya, dengan menyiapkan baju baru untuk dikenakan di hari fitri. Tak jarang, dilengkapi pula dengan baju lain untuk dipakai dalam kunjungan silaturahmi dengan teman dan kerabat di bulan Syawal itu. Prinsip ibu yang masih kukenang sampai kini adalah jangan sampai kita ‘menjual kemiskinan’. Maksudnya, walaupun kami sebetulnya dari keluarga yang biasa-biasa saja cenderung pas-pasan, tapi jangan sampai kami menunjukkan kemelaratan di depan orang lain jika sekiranya hal itu akan menimbulkan rasa iba atau bahkan lebih jauh, cibiran yang merendahkan.
Tapi tak ada maksud menyombongkan diri pula jika kita mengenakan pakaian baru untuk menyambut Idul Fitri. Sejatinya, itu pun untuk mensyukuri nikmat yang telah dilimpahkan pada kami. Dalam beberapa kesempatan Idul Fitri, cukup sering kami berempat mengenakan pakaian yang nyaris seperti seragam. Tak jarang ibu membeli kain dan menjahit sendiri baju-baju untuk kami. Biar ketahuan kali... kami masuk 'clan' mana. Biar nggak gampang ketuker juga :p
Beberapa baju masa lalu itu, beberapa di antaranya memorable banget, ya karena modelnya, atau juga karena proses panjang yang dilaluinya hingga menjadi baju lebaran kami. Ibu senang menjahit sendiri baju-baju kami. Selain menyesuaikan dengan ukuran badan kami, juga sedikit banyak bisa menghemat pengeluaran untuk pos baju lebaran ini. Kami anak-anaknya pun tak jarang ikut berperan dalam proses pembuatannya. Aku sesekali diutus ke tukang obras langganan dengan membawa kain yang baru digunting sesuai pola. Kadang aku pergi juga untuk membeli benang, kancing atau ritsleting. Tak jarang pula kami ikut membantu memasang kancing atau mengelim baju hingga siap dikenakan . Proses ini sekaligus jadi pengingat beratnya jerih payah bapak dan ibu untuk memberi kebahagiaan pada kami di hari fitri yang dinanti-nanti. 
Baju brokat dengan model kembaran kecuali kakak sulungku.

Baju kotak-kotak buat jalan saat silaturahmi. The sulung ogah samaan :p
(mampir di Alun-alun Bandung buat foto-foto)
Kembaran baju merah hasil jahitan ibu. Aku suka kancingnya :D
Sebagai keluarga yang bukan termasuk golongan yang berkelebihan, persiapan lebaran pasti perlu budget extra yang bisa bikin sakit kepala hampir setiap orang tua, termasuk ibu dan bapak kami dulu. Kami diajari untuk tidak menuntut baju baru di setiap akhir Ramadhan, namun juga tetap rendah hati dan banyak bersyukur saat masih bisa mengenakan pakaian yang layak dikenakan di hari raya.
Tahun-tahun setelah bapak… lalu ibu pun tiada, baju lebaran itu tinggal jadi memori saja. Bila ada cukup dana yang bisa dialokasikan, aku bisa saja mengupayakan baju baru untuk dikenakan saat shalat eid, untuk menghormati hari raya itu, dengan mengenakan pakaian terbaik saat melaksanakan ibadah yang istimewa. Tapi kalaupun budget pas-pasan, aku cukup mengeluarkan pakaian koleksi lama yang ‘didaur-ulang’ dengan trik mix n match untuk memberikan kesan yang berbeda.
Idul fitri, bukankah esensinya adalah kembalinya kita pada kesucian, kebersihan hati, bukan kebersihan dompet gegara habis dibelanjakan sana-sini. Selamat menyambut hari raya yaa, semuanya.
#CeritaLebaran ini diikutsertakan di event giveaway-nya mbak Dian Andari Yuan. Ayo, kamu juga boleh banget berbagi #CeritaLebaran beserta keunikan tradisi dan memorinya. Cek syarat dan ketentuannya di sini yaa...

Minggu, 26 Juni 2016

Lebaran Chic Dengan Baju Muslim Restu Anggraeni

Jelang lebaran begini, orang mulai ramai bahas baju baru lagi deh buat lebaran. Nggak sekedar bahas baju barunya, tapi juga soal desain atau model bajunya. Tentu model paling trendi dan kekinian yang jadi incaran. Yang sedang trend belakangan ini adalah model gamis syar'i. Busana muslim kan mesti memenuhi kaidah syar'i itu tadi dong. Nah, yang syar'i itu yang gimana siih? Garis besarnya sih seperti poin-poin di bawah ini: 
  • Tidak tipis membayang
  • Tidak ketat membungkus badan
  • Tidak menyerupai gaya busana laki-laki
  • Dilengkapi dengan kerudung yang menjulur sampai menutupi dada
Nah, dengan panduan seperti tersebut di atas, hal ini tentu akan memudahkan kita untuk memilih busana muslim. Sebelum memilih, tentu masih banyak lagi pertimbangan sebelum memutuskan untuk mengambil salah satu atau bahkan lebih. Tidak hanya desain yang disuka, tapi juga seberapa cocok baju itu di tubuh kita, dan kecocokan dengan isi dompet tentunya. Kalau buatku, urusan dompet ini jadi pertimbangan terbesar siih. Hemat atau pelit? Udah susah ngebedainnya p
Pertimbangan lain buat pilih baju adalah kemudahan mengakses koleksi baju tersebut. Belakangan ini kayaknya malesin banget deh kalau mesti sesak-sesakan ke pasar baru atau menembus macet Bandung untuk mencapai rumah busana yang punya koleksi bagus. Belanja online bisa jadi alternatif nih untuk mendapatkan koleksi busana berkualitas dengan kemudahan metoda pembayaran. 
Sedikit berkelana di dunia maya, pencarianku mendarat di laman blibli.com. Web belanja online ini cukup terpercaya. Sebelumnya aku sudah pernah bertransaksi di blibli dan pelayanannya memuaskan. Barang diantar cepat dan kualitasnya terjaga. Jadi untuk belanja busana kali ini, bismillaah... kupercayakan pada blibli.
Restu Anggraeni Exclusive Collection for blibli.com
Pilihannya banyak sekali tersedia, mulai dari baju 'tanpa merek' hingga koleksi desainer kondang tanah air, ada nih di blibli. Dari beberapa desainer yang berkolaborasi dengan blibli, salah satu di antaranya adalah Restu Anggraeni. Desainer yang sudah punya beberapa lini busana ini juga ikut serta meluncurkan exclusive collection-nya untuk blibli. Model baju muslim terbaru, digelar Restu untuk blibli dengan beragam alternatif desain baju muslim modern yang juga tersedia dalam beberapa pilihan warna. Cantik-cantik semuaaa....!!! Pilih-pilih, cukup dengan menggerakkan mouse saja, dan tanpa perlu mendatangi butiknya, aku bisa mendapatkan item fashion berkualitas hanya dengan 'seujung jari'. 
Fairin Blouse-lavender. Restu Anggraeni for blibli.com
Ini salah satu yang jadi incaranku, fairin blouse dengan warna lavender. Bentuk blouse-nya cantik, dengan perbedaan panjang di bagian depan dan belakang. Modelnya memenuhi kaidah syar'i yang sudah kusebutkan di atas tadi. Desainnya yang longgar mengembang di bagian bawah menjamin bahwa bentuk badan tak akan tercetak. Bentuk lengannya menyamarkan ukuran lenganku yang sesungguhnya. Besar ataui kecil, tidak masalah jadinya. Warnanya yang lembut dalam nuansa ungu muda membuatku jatuh cinta. Nantinya, blouse ini bisa di-adupadankan dengan rok A-line atau celana panjang berpipa lurus untuk memberi kesan chic. Sementara kerudungnya, tak terbatas pilihannya. Polos atau corak, tinggal menyesuaikan dengan situasinya.
Setelah memasukkan fashion item incaran ini ke keranjang belanja, aku tinggal memilih metode pembayaran yang tidak kalah chic, bisa disesuaikan dengan keinginan pula. Bisa pilih pembayaran dengan opsi debet rekening atau kartu kredit, via bank mana saja sesuai pilihan kita. Mau transfer langsung atau cicil, bisa dipilih sesuai dengan kondisi dompet. Tunggu THR cair dulu kali ya, baru confirm pembelian ;)
Pada akhirnya sih, apapun pilihan kita mengenai busana ini, ujung-ujungnya diserahkan kepada kita. Mau beli baju baru untuk lebaran silakan. Pakai koleksi lama pun tak mengapa. Jika membeli baju baru jadi pilihan, sistem pembayarannya pun ada di dalam kendali kita. Selama masih bisa diupayakan, tidak berlebihan dan tidak merugikan orang lain, tentu dipersilakan.  Guideline-nya adalah mengukur diri sendiri yang pada intinya: just be yourself. Kenakan gaya sesuai pemahamanmu pada kaidah syar'i tadi. Jika keempat syaratnya sudah terpenuhi, bismillaah... Kalau bisa sekaligus syar'i dan gaya, itu lebih indah, bukan? Untuk memfasilitasinya, silakan pilih-pilih satu atau beberapa dari koleksi ekslusif untuk blibli ini. Silakan dipilih... dipilih... Siap berlebaran chic dengan baju muslim koleksi Restu Anggraeni? Aku sih siap. Gimana dengan kamu? ;)

Minggu, 06 Juli 2014

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Berawal dari keinginan untuk membuat hiasan dinding kaligrafi, aku mulai dengan mencoba bentuk kaligrafi yang kucontek dari gambar yang kudapat hasil googling. Modifikasi sedikit, huruf alif, lam, dan ra untuk 'Ar Rahman' dan 'Ar Rahiim' kubuat lebih panjang supaya panjangnya pas dengan lafadz 'Bismillah' di baris teratas. Gradasi warna biru kupakai hanya karena memang cuma itu warna yang ada di rumah. Haha...
Selesai dengan basmalah, sekalian saja kulanjut dengan menjahitnya jadi sebuah kantong. Terus terang saja, zipper di bagian atas kantong ini kujahit agak-agak asal. Asal nempel. gitu, nggak rapi-rapi amat. Tapi masih bisa difungsikan dengan baik. Niat awalnya, kantong ini akak kupakai sebagai kantong untuk membawa alquran, tapi ternyata quran-ku tak ada yang seukuran itu :( Mungkin akan kualihfungsikan untuk wadah mukena aja. Bismillaah...

Jumat, 31 Januari 2014

Celemek Bolak-Balik Lagi

Menjahit lagi. Sebetulnya memang tidak perlu waktu lama. Cuma beberapa jam saja. Itu pun sudah plus nyeterika sana-sini untuk membuat jahitan terlihat rapi. Dan ini dia hasilnya.
Batik madura yang kubeli tempo hari saat berkesempatan menyeberang via jembatan Suramadu jadi penghias di salah satu sisi celemek ini. Lilinnya masih lengket sedikit di sana-sini. Tapi ini menandakan bahwa ini adalah batik asli. Motifnya kebetulan memang menyerong, jadi sekalian aja dipotong sesuai arah motifnya lalu dijahit di bagian bawah celemek. Diberi dua saku di sambungan jahitannya, dengan ukuran yang nggak seragam. Njahitnya nggak pake ngukur-ngukur sih, cuma pake feeling aja. Haha...
Sisi lainnya adalah potongan dari selendang batik bergambar tumpal dan burung Phoenix. Legenda Phoenix yang unik, bahwa dia bisa hidup kembali dari abu pembakaran dirinya, jadi satu perlambang semangat yang selalu tumbuh kembali. Potongan tumpal dipasang di bagian dada dan saku. Gambar Phoenix kecil ada di bagian bawah tumpal, di bagian saku. Pas banget, dapat dua gambar Phoenix.

Sabtu, 15 Juni 2013

Rajinnya Bikin Event Giveaway

Beberapa crafter rajin banget bikin event giveaway. Salah satunya, Hayano Handmade yang kali ini menggandeng Maion Craftz untuk menggelar giveaway berhadiah unik, yaitu macaron pouch dan puffy pouch. Masing-masing 1, untuk 2 orang yang beruntung (berharap aku adalah salah satunya). Macaron pouch batiknya lucu sekali. Mau dong dapat satu. Maion, let me have one of it ya. Please... Ini dia gambarnya, contek dari blog-nya Hayano Handmade. Lucu kan...? 
Persyaratan untuk ikutan event-nya sudah aku penuhi. Tinggal duduk manis menunggu hasilnya aja. Untuk yang mau ikutan juga, silakan langsung meluncur ke TKP. Detilnya ada di sana, di blog-nya Hayano Handmade.

Jumat, 14 Oktober 2011

Celemek Batik Bolak-Balik

Menjawab tantangan dari Alfamart dalam event Photo Contest Batik Creative Challenge yang tenggat waktunya berakhir di hari Sabtu tanggal 15 ini, aku menjahit sebuah celemek bolak-balik. Pada intinya sih, karena aku malas pergi ke luar rumah untuk mencari tukang obras. Jadi amannya, aku jahit saja semua kampuh ke bagian dalam dan jadi celemek bolak-balik. Mudah, bukan? ;)
Kugunting bahan di hari sebelumnya, kutandai dengan rader dan karbon. lalu kutinggal. Di hari berikutnya baru kukerjakan semua tahap menjahit dan menyeterika dalam setengah hari saja. Hm... ternyata tidak lama ya menjahit sebuah celemek. Hasilnya? Tidak mengecewakan, kurasa.
Satu sisi dari celemek itu berupa batik berwarna ungu dengan dasar berwarna krem, dengan corak sulur dan burung yang kukombinasikan dengan kain bernuansa coklat. Kain batik berasal dari selendang yang sudah lama sekali mengendap di lemari. Daripada lapuk dimakan rayap, bukankah lebih baik bila dimanfaatkan? ;) Kupotong diagonal dan kujahit di atas kain coklat. Kantong besar di bagian depan dibuat sekaligus saat menambahkan saku besar untuk bagian sebaliknya dari celemek itu.
Di sisi lainnya kain coklat yang sama kukombinasikan dengan kain batik sisa yang akhirnya hanya cukup untuk menghias bagian dada dan ujung saku saja. Saku kujahit tindas bersamaan dengan pembuatan saku untuk celemek di bagian belakang. Jadi sekali menjahit, dua saku selesai sekaligus.

Selasa, 26 Juli 2011

Pakai Legging? Dilapis Lagi, Please...

Akhir-akhir ini, pemakaian legging makin populer rasanya. Celana kaos ketat ini tidak lagi dipakai sebagai dalaman, tapi makin banyak juga perempuan yang mengenakannya sebagai padanan t-shirt atau atasan jenis lain. Bahkan ibu-ibu tua dan muda, ikut pula mengenakannya. Gadis-gadis berkerudung pun kulihat banyak yang mengenakan legging sebagai padanan tunik (yang kadang pendek) sebagai busana sehari-hari. Sudah mulai salah kaprah nih.
Kutemukan gambar berikut ini di sebuah situs blog asing. Dari nada tulisannya, tertangkap adanya nada keberatan saat melihat orang lalu-lalang di jalanan hanya memakai legging sebagai padanan t-shirt. Hayu atuh, kita lapis lagi legging kita dengan celana longgar atau bahkan rok. Lengging hanya membungkus kulit, bukan menutupnya. Bukankah kalau pakai legging, bentuk kaki jadi makin kentara? Nah, sedangkan tujuan berbusana muslimah tuh sebenarnya untuk apa? Bukannya untuk menutup aurat? Supaya tidak terlihat warna ataupun bentuknya. Kalau begitu, yuk pakai pelapis lagi di atas legging. Please...

Sabtu, 18 Juni 2011

Batik (Nyaris) Kembar

Beberapa waktu lalu aku berkesempatan membeli sehelai kain batik hijau-putih di seputaran jalan Braga. Cukup murah, mengingat reputasi jalan Braga sebagai salah satu sentra wisata bagi para turis -terutama wisatawan asing- membuat toko-toko di lokasi ini seringkali mematok harga tinggi.
Tapi kali ini, aku berkesempatan memilih dan membeli satu dari puluhan kain batik yang didisplay di sana dengan harga cukup bersahabat.
Kupilih batik berwarna putih-hijau dengan kepala batik bermotif tumpal. Sederhana, tapi manis. Hijau ini salah satu warna favoritku. Kuingat kemudian bahwa ada seorang temanku, Afi, yang juga memiliki batik serupa.
Kubawa batik putih-hijau yang kupunya ke penjahit langganan, dan kuminta dia untuk menjahitkannya dengan bagian kepala batik atau tumpalnya di bagian belakang. Eh… ternyata membuatnya makin mirip dengan batik yang dimiliki Afi.
Sekalian saja. Dalam satu kesempatan di sekolah kami, aku dan Afi janjian untuk mengenakan baju batik putih-hijau ini. Tentunya, menyempatkan juga untuk berfoto bersama. Kalau barengan, narsis pun tak terlalu terasa ya? :p

Minggu, 06 Maret 2011

Kerudung Batikku

Aku suka batik, iya. Biasanya bahan-bahan batik yang kupunya kujahit jadi baju yang dipakai sehari-hari, seringnya sih blus atau tunik berpotongan sederhana. Motif batik itu sendiri sudah ‘kaya’, jadi tak perlu lagi dibuat beragam model yang ‘aneh-aneh’ untuk tampil beda tapi tetap bersahaja, dan justru bisa menonjolkan keindahan motif batiknya. Sebagai padanannya, aku biasa mengenakan celana panjang atau rok dan kerudung polos. Lagipula, aku tidak terlalu suka kerudung bermotif.
aku dan kerudung batikku
Tapi ada satu kerudung batik sutera pemberian salah satu orang tua murid di sekolah tempat aku mengajar. Euh… warnanya ungu (bukan warna favoritku) dan bahan suteranya halus sekali. Kupikir pasti susah untuk membuatnya ‘bertengger’ tetap membungkus kepalaku. Lagipula, motif batik begitu, harus kupadukan dengan baju yang mana???
Ternyata setelah dilapis kerudung polos katun di bagian dalamnya, kerudung batik ini tetap rapi di kepalaku walaupun aku aktif berkegiatan. Dengan paduan tunik dan celana panjang putih yang simpel, kerudung batik ungu ini terlihat cantik sekali. Bukankah begitu? ;)
Tulisan ini muncul juga di web-nya BatikIndonesia.com.

Rabu, 15 Desember 2010

Kaos Batik Untuk Timnas Bulutangkis

foto: courtesy of detiksport/Narayana Mahendra
Wow...! Bagus nih, selain eye-catching, juga betul-betul menunjukkan kepada dunia internasional, bahwa batik adalah Indonesia. 
foto: courtesy of detikforum
Juara pula? Bangganya... Sukses selalu ya, tim bulutangkis Indonesia. 
foto: coutesy of kaskus.com
Dengan seragam batik beragam desain, Indonesia makin terlihat beda. Semoga makin berprestasi jadinya. 
Hm... timnas sepakbola juga berjaya tuh ;)

Minggu, 19 September 2010

Berita Batik

Omzet Penjualan Batik Meningkat...! Demikian berita yang kubaca di koran Republika hari Ahad, 19 September ini. Selama jelang lebaran, penjualan batik di Yogyakarta meningkat, hingga mencapai 1,5 hingga 2 kali dari penjualan di hari-hari biasa, dari omzet yang biasanya mencapai 30 juta per bulan dari penjualan batik. Sungguh suatu bisnis yang menggairahkan dan masih terus menjanjikan.
Apresiasi masyarakat terhadap batik masih terus meningkat. Penjualan kain dan pakaian batik masih melaju kencang. Harga yang dipatok oleh penjual berkisar Rp 20.000,- hingga Rp 250.000,- per potong, membuat pembeli leluasa memilih, sesuai dengan dana yang tersedia di kantong. 
Sementara itu, motif dan desain pakaian pun terus berkembang. Para pecinta batik sungguh dimanjakan dengan begitu banyaknya pilihan yang tersedia. Mulai dari batik klasik, hingga batik abstrak bergaya kontemporer.
sumber foto: http://lifestyle.okezone.com/
Salah satu penggagas batik kontemporer ini adalah Tetet Cahyati Popo Iskandar, yang sejatinya adalah putri dari pelukis Popo Iskandar. Darah seni diwarisinya dari sang ayah. Beliau menggagas batik abstrak Bandung yang dilakoninya sepenuh hati, hingga mendapat penghargaan dari MURI sebagai seniwati multimedia terhadap multitema. Karya beliau beserta jejak berita tentang batiknya sudah tersebar di berbagai media. Mulai media cetak hingga dunia maya. Termasuk yang dilansir detikbandung maupun okezone. Dan sebetulnya masih banyak lainnya. Republika pun mengulas tentang beliau dan karyanya di halaman 9. Batik... masih terus berjaya, tampaknya. Oya, jangan lupa, tanggal 2 Oktober nanti, hari batik nasional. Mari apresiasi batik Indonesia dengan mengenakan busana batik terbaik kita. Tapi ulasan tentang itu, hm... insya Allah nanti aku buat khusus di blog ini ;)

Selasa, 14 September 2010

Batik Depok, Ikon Sebuah Kota

Aku menyukai batik… hingga beberapa blog-ku pun bertajuk batikmania. Tapi sebetulnya… kurasa aku bukan betul-betul penggila batik. Ya, aku memang ingin jadi kolektor beragam batik Indonesia, dan dengan begitu ikut melestarikan warisan budaya ini. Namun apa daya, dompet tak cukup berisi. :p
Batik gitu loh… Yang asli, apalagi batik tulis, tentu harganya tidak murah. Aku sih setuju setuju saja, jika dengan begitu kita bisa memberi apresiasi kepada para pengrajin batik. Aku tahu bagaimana ‘susahnya’ membatik. Berpanas-panas di depan kompor, menggambar dengan bantuan canting yang sekali gores tak boleh salah, atau menstempel pola pada kain, lalu mewarnai dengan bahan kimia yang bisa merusak kulit, setelah itu melunturkan lilin dengan rebusan air mendidih, wah… pada intinya, membatik itu bukan pekerjaan yang mudah. Jadi, sudah selayaknya sehelai kain batik dihargai dengan harga tinggi.
Apalagi saat ini batik sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Alhamdulillah… Tak boleh lagi dong di-claim oleh negara lain, apalagi oleh negara tetangga yang suka ngaku-ngaku itu. :p Apresiasi kita terhadap budaya bangsa sendiri ini, harus semakin tinggi. Kalau memang punya uang, jangan ragu untuk membayar lebih, toh keuntungannya untuk bangsa sendiri.
Berbagai daerah menggunakan batik sebagai sarana eksistensi diri alias ikon daerah. Setahuku, ada beberapa daerah yang sudah merancang motif batik sendiri, termasuk Depok. Melalui sebuah lomba desain motif batik, diluncurkanlah batik khas Depok itu di tahun 2009 lalu. Beragam hasilnya, semua indah dan menampilkan ciri khas Depok. Yang sangat kentara terlihat adalah pola/gambar irisan buah belimbing yang memang telah menjadi ikon kota Depok.
Paduan motif dan warna harus dirancang secara cermat agar dapat memperlihatkan ciri khas Depok, agar terlihat berbeda dengan daerah lainnya. Beberapa desain yang membuatku tertarik, kudapat gambarnya dari situs jejaring facebook dan kupampang di bawah ini.
Batik yang jadi juara, karya Ibu Nasiyah, merepresentasikan seluruh ciri khas Depok, yaitu belimbing, ikan Memphis, gedung tua dan lambang Paricara Dharma, sudah diproduksi dan akan digunakan secara luas, baik di kalangan PKK, lembaga pemerintahan maupun kalangan umum lainnya.
Pada rancangan desain batik lainnya, motif irisan buah belimbing yang menjadi ciri khas Depok dipadu dengan sulur-suluran dalam paduan warna merah-terakota terlihat anggun. Bapak Toni sang perancang motif terlihat luwes menggambarkan bagian demi bagian motif batik ini. Cukup sederhana, sebetulnya, namun rancangan ini pastilah dibuat dengan penuh ketekunan dan kesabaran untuk menghasilkan yang terbaik.
Yang berikutnya, batik Depok hasil rancangan bapak Fatlan. Desain kali ini relatif lebih rumit dari yang sebelumnya, Masih mengambil esensi irisan buah belimbing sebagai ikon kota Depok, rancangan batik ini dipadu dengan gambar sulur-suluran dan ornamen dekoratif lainnya, membuat desain ini secara keseluruhan terlihat kaya. Pengisian bidang dengan ornamen dekoratif yang berupa rangkaian garis yang berliuk-liuk tentulah juga memerlukan kesabaran dan ketekunan dalam mengolahnya. Nilai-nilai ini diharapkan dapat juga tumbuh di kalangan warga Depok. Semoga…
Selain nilai-nilai keutamaan yang diharapkan keberadaannya di kalangan warga Depok, produksi masal batik ini pun akan mendongkrak sektor ekonomi secara signifikan. Pengrajin batik dapat terus berproduksi dan mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan batik ini, termasuk juga industri terkait, hingga melibatkan pengrajin batik di Solo. Depok bagi-bagi rejeki-lah... ;) Sementara itu, masyarakat Depok pun diharapkan agar memiliki kebanggaan dengan mengenakan batik khas ini. Kabarnya, walikota Depok sudah memberikan instruksi agar pegawai di lembaga pemerintahan dapat mengenakan busana batik Depok dan mendukung penggunaan batik serupa di kalangan yang lebih luas. Dengan demikian, terwujud rasa kebersamaan yang padu di kalangan warga Depok. Suatu upaya yang bagus, kukira. Aku sendiri, walaupun bukan warga Depok, mau juga dong batik Depok… ;)

Minggu, 12 September 2010

Desainer Inggris

Beberapa waktu lalu aku sedang asyik-asyik blogwalking dan menemukan sebuah blog karya seorang muslimah berbahasa Inggris, muslimah voices. Salah satu posting-annya adalah tentang desain busana muslimah yang perancangnya adalah pengelola butik maysaa di Inggris sana. Desainnya terlihat menuruti gaya busana anak muda yang bebas dan dinamis, tapi tetap mengikuti kaidah syar'i sebuah busana muslimah. Salah satu karya desainnya kutampilkan di sini, kuambil dari blog muslimah voices, namun berbagai gaya busana lainnya dari Maysaa tentu dapat diakses langsung melalui link berikut ini: www.maysaa.com.

Jumat, 02 April 2010

Lenny Agustin

Dia adalah salah satu finalis Lomba Rancang Etnik Perempuan Citra 99, sama seperti aku. Dia, tidak termasuk juara 1, 2 atau 3, tapi semangat berkaryanya tidak berhenti hanya karena ketiadaan gelar juara. Kukagumi semangatnya. Hingga saat ini, dia termasuk salah satu desainer paling getol berkarya. Butiknya sudah tersebar di beberapa lokasi, dan karyanya tidak kalah banyak mejeng di berbagai halaman mode berbagai majalah nasional. Karya-karyanya fenomenal, segar, walaupun aku nggak akan mau memakainya. Terlalu 'semarak' buatku yang relatif konvensional dan konservatif. Seperti kata kakakku, taste desainku kayaknya memang 'kurang gila'. :p Tapi aku ikut bangga sebagai temannya Lenny (hehe..., ngaku-ngaku teman.) Ayo Len, maju terus, dan tulari aku semangatmu. Saat ini aku menjadikan fashion design hanya sebagai hobby, tapi tidak menutup kemungkinan bila kelak aku akan menjadikannya sebagai profesi, seperti Lenny ;)

Kamis, 14 Mei 2009

Batik Tak Sampai

Sebuah karya desain yang kuajukan dalam ajang Lomba Rancang Etnik Perempuan Citra tahun 1999, membawaku menjadi salah satu finalis di ajang bertaraf nasional itu. Mengusung tema "Batik Tak Sampai", gara-gara aku malas menggambar detil motif batik, jadilah final desain yang bermotif acak.
Satu set rancangan busana ini membuatku bolak-balik ke studio batik Bandung punyanya pak Hasan (almarhum) untuk membuat beberapa meter kain batik yang kuinginkan. Kuning-coklat, nuansa alam. Berpadu dengan kuning emas atau coklat gelap berkilau, kain sutera dan katun serta sifon yang juga membuatku bolak-balik ke King's textile center di Dalem Kaum. Masih ada lagi bolak-balik lainnya, selain ke ATM untuk mengambil modal kerja (hhh...), juga bolak-balik Bandung-Jakarta untuk bertemu dengan panitia hingga dewan juri.
Aku tidak mendapat gelar apapun di ajang itu, tapi pengalaman, tentu banyak sekali. Setelah event itu, aku memang sempat 'jatuh miskin', tapi jadi sangat kaya dengan pengalaman. Apapun, kusyukuri pengalaman ini. Jadi 'ketagihan' ikutan lomba lagi. Hihi... ;)

Selasa, 14 April 2009

LRBM NOOR 2009

Tahun ini... ke-4 kalinya aku ikut LRBM (Lomba Rancang Busana Muslim) yang diselenggarakan majalah NOOR. Pengalaman seru ketika berdebar-debar mengejar tenggat waktu penyelenggaraan, lalu berharap cemas lagi mengenai kemungkinan lolos-tidaknya.
Selama ini biasanya aku cukup (tidak) puas untuk lolos ke babak pra-kualifikasi, masuk dalam jajaran 40 besar. Tahun ini karya rancanganku sebetulnya mungkin lolos ke dalam kelompok 40 besar (hehe... menghibur diri, nih, ceritanya), tapi ternyata hanya 20 semifinalis yang langsung 'dipajang' di halaman dalam majalah NOOR, dan aku tidak termasuk salah satunya. :(
Memang tahun ini rasanya aku kurang optimal menggarap materi lomba. Konsep desainnya sih kurasa cukup mantap, untuk mendaur ulang bahan pakaian lain, juga gaya tukar-pasang yang membuat koleksi busana kita seolah tak terbatas. Sangat cocok dengan konsep eco-fashion yang diusung LRBM NOOR tahun ini. Sketsanya yang kubuat agak asal. Hehe... Kakakku selalu bilang, gaya busana yang kuikutsertakan dalam lomba masih 'kalah gila', kurang heboh, gitu. Makanya belum bisa lolos jadi salah satu finalis (tapi isi kepalaku yang keras ini berkata, "Emangnya bakal ada orang yang mau, pakai baju 'luar biasa' ke... undangan nikahan sekalipun?" :p)
Tapi biarlah... saya sharing sketsa desain busana itu di sini. Enjoy it.

Senin, 06 April 2009

Lomba Pertama



Tahun 1999 lalu merupakan 'debut' pertamaku di ajang lomba rancang busana. Rancang Etnik Perempuan Citra. Ajang rancang busana etnik yang kupilih batik dengan judul "Batik Tak Sampai". Simple saja, sebetulnya karena aku malas menggambar detil motif. Makanya motif sengaja kubuat tak selesai. Supaya terdengar agak 'manis', judul pun meniru penggalan pepatah, jadilah "Batik Tak Sampai".


Masuk ke dalam jajaran 10 finalis di ajang lomba berskala nasional itu tentulah satu kebanggaan, dan tak bisa disangkal, kerepotan yang sekaligus menguras tabungan. Ha!!! Waktu itu, kebetulan waktu penyelenggaraannya nyaris bersamaan dengan pembagian rapor anak-anak di sekolah. Wah... kesibukan luar biasa deh pokoknya. Ngolah nilai, nulis rapor, ngasih komentar penyemangat buat anak satu persatu (30 anak, je!), ditambah lagi bolak-balik ke studio batik bandung, tempatku membuat batik, terus dilanjut dengan seri pertemuan dengan penjahit, ngebatik lagi, ke Jakarta lagi untuk fitting, dsb dsb, dan akhirnya... malam final.

Sebagai finalis nomor 10, karya rancang busanaku tampil paling akhir dari keseluruhan peragaan. Aku sempat melihat dengan tenang peragawati-peragawati itu bolak balik di atas panggung, naik-turun catwalk. Sayang, kami tak boleh mengambil gambar dengan flashlight. Sayang banget. Jadi aku tak bisa memotret mereka. Baju-bajuku dibawakan 6 peragawati top Indonesia, dan di bagian akhir, Arzetti bersebelahan denganku, mengenakan salah satu gaun. Sayang, aku tak punya dokumentasi foto apalagi video, padahal siaran ulangnya tayang di salah satu tivi swasta lho. :(

Selasa, 31 Maret 2009

Saat Muslimah Beranjak Remaja

Diterbitkan di majalah Ummi edisi Januari-Februari 2002
Gaya remaja saat itu (tahun 2002-an), pasti bedalah dengan gaya remaja saat ini (2009-an). Dunia fashion terus berkembang, meninggalkan yang 'kuno' tertinggal di belakang, atau kembali ke gaya klasik yang selalu asyik (nggak pernah ketinggalan jaman, gitu...), itu tentu kembali kepada pilihan kita masing-masing. Tapi jika yang kita ikuti adalah gaya mode yang ditetapkan al Quran, untuk menutup aurat sekemampuan kita, tentu akan selalu up to date, bukan? ;) Remaja ataupun dewasa, yuk kita pakai busana muslimah.
Menutup aurat dengan pakaian taqwa merupakan kewajiban setiap muslimah. Masa akil baligh adalah saat dimulainya pelaksanaan perintah Allah tersebut. Bagi remaja, tentu factor gaya menjadi pertimbangan tersendiri. Mereka tak mau lagi berpakaian seperti kanak-kanak, tapi juga tak ingin bergaya seperti ibunya.
Berikut ini Ummi pilihkan beberapa gaya busana yang pantas dikenakan remaja ke acara-acara ‘gaul’ mereka.
Busana pertama, gaun terusan dengan lengan setali yang menggunakan renda dan bisban sebagai aksen. Tambahan pita di kiri-kanan gaun yang dikenakan di atas kaos lengan panjang ini menjadi semakin manis.
Busana kedua, setelan tunik dan celana panjang berpipa lurus dengan aksen kombinasi warna dan border yang menimpa jahitan tindas sebagai batas antara kedua warna.
Busana ketiga, setelan tiga potong yang terdiri dari kaos putih berleher tinggi yang dipadukan dengan rok atau kulot lebar, ditambah dengan baju luar berupa modifikasi tunik yang beraksen kancing di bagian pinggang.
Gaun-gaun di atas ini tentu saja ditujukan untuk para remaja, jilbaber pemula yang masih aktif dengan kegiatan mereka yang menuntut mobilitas yang tinggi dan keleluasaan gerak. Langkah berikutnya, mereka dapat dikenalkan dengan gaun-gaun yang lebih feminin (D. Utami)

Senin, 24 November 2008

Serasi dengan Suami

terbit di majalah Ummi edisi Desember 2001-Januari 2002
Tampil serasi dengan suami dapat menjadi pemanis dalam kehidupan berumah-tangga Anda. Dengan keserasian berbusana di antara Anda berdua, tentu bawaannya jadi ingin kompakan terus. Nah, sebagai bahan panduan buat Anda, berikut Ummi tampilkan 3 alternatif sketsa sebagai pilihan alternatif Anda dalam berbusana kompak dengan suami.
Standar Simpel
Baju koko merupakan pakaian yang sangat lazim/biasa dikenakan para bapak saat pergi Jumatan. Dalam kesempatan ini, baju koko dikombinasikan dengan celana panjang atau sarung yang senada dengan baju kurung model sederhana yang dikenakan oleh istri. Kompaknya gaya berbusana ditunjukan pula dengan jahitan tindas yang serupa (ofnaisel). Untuk Abi, ofnaisel diterapkan sepanjang kiri-kanan dada, sedangkan untuk Ummi ofnaisel diterapkan pada bagian kiri dan kanan rok.
Sarung Serasi
Untuk penampilan yang lebih resmi, Ummi dan Abi dapat mengenakan sarung yang serupa untuk tampil kompak. Di sini Abi mengenakan sarung pendek di bawah baju koko dari bahan yang agak tebal berwarna gelap. Berkesan resmi.
Sedangkan Ummi dapat mengenakan sarung untuk padanan baju kurung dengan aksen lipit ganda di bagian tepi lengan dan baju kurung.
Berpadu Biru
Gaya berikutnya adalah padanan kompak dalam warna (tentu tidak harus biru). Ummi cukup dengan rok polos plus baju kurung panjang yang memiliki belahan sampai panggul. Sementara Abi bisa tampil dengan gaya India. Wujudnya, baju koko panjang yang dipadu dengan celana panjang longgar.
Dari beberapa alternatif sketsa yang Ummi tampilkan, Anda tentu dipersilakan memilih yang paling sesuai dengan selera untuk tampil serasi di hari fitri. Namun tentu perlu diingat, yang paling penting untuk diwujudkan bukanlah sekedar keserasian penampilan, tetapi justru keharmonisan Anda berdua.
Blogged with the Flock Browser

Sabtu, 22 November 2008

Saat Ananda Bergaya

Terbit di majalah Ummi edisi November-Desember 2001
Sketsa Ummi sudah cukup sering menampilkan berbagai alternatif busana untuk remaja dan dewasa. Kini saatnya giliran si upik yang berdandan. Boleh kan si kecil tampil lain dari biasanya? Gaun-gaun cantik berikut ini cocok dipakai si upik dalam acara resmi bersama ummi dan abinya, ataupun saat kumpul bareng dengan teman-temannya.
Pertama, gaun ungu berlapis dengan hiasan renda putih lebar di bahu, ujung lengan dan tepi lapisan luar gaun. Nuansa ungu tidak terlalu memberi kesan kontras namun sudah cukup ceria meski tanpa penggunaan motif yang ramai.
Kedua, gaun biru dengan lapisan merah muda. Bagian dalam dibuat lebar, semi klok, agar si kecil leluasa bergerak, berjalan, bahkan berlari. Sambungan di bawah dada diberi hiasan pita agar kombinasi ini punya titik pusat perhatian. Bila Anda suka, silakan saja gunakan bahan bermotif agar busana si kecil tampak lebih ceria.
Selanjutnya adalah gaun terusan hijau dengan kombinasi bahan bermotif yang diletakkan di berbagai tempat, mulai dari lengan, kerah, tepi gaun, bahkan tepian kerudung. Sederhana tapi tetap bergaya. Tambahkan jepit kecil di kanan-kiri kerudung agar posisinya tidak berubah.
Yang terakhir adalah gaun ceria berwarna kuning dengan hiasan renda bertingkat di bagian bawah gaun dan tepi dada. Hiasan smock di sambungan dada dan kerutan lengan akan membuat penampilan lsi kecil terasa lebih 'semarak'.
Dengan beberapa alternatif di atas, putri Anda akan tampil lebih cantik di saat-saat istimewa. Anda pun dapat mengambangakan alternatif tersebut dengan beragam kombinasi lainnya, tapi ingatkan padanya, bahwa kecantikan akhlak akan lebih berharga daripada sekedar penampilan.
Blogged with the Flock Browser