Senin, 27 Juni 2016

Memori Baju Lebaran Masa Lalu

Sudah jadi tradisi rasanya, bahwa setiap jelang Idul Fitri umat Islam berbondong-bondong ke pusat perbelanjaan atau pasar tradisional, tidak hanya untuk belanja kebutuhan sehari-hari yang dialokasikan untuk keperluan dapur, tapi juga berburu bahan pakaian atau pakaian jadi untuk 'bekal lebaran'. Pasar penuh dengan ibu-ibu!!! Semangat mereka untuk membahagiakan keluarganya di akhir Ramadhan, makin berkobar di 10 hari terakhir. Ini mengingatkanku pada masa kecil dulu...
Saat kami masih kecil-kecil, ibu pun tak kalah semangat untuk membahagiakan kami, 4 putrinya, dengan menyiapkan baju baru untuk dikenakan di hari fitri. Tak jarang, dilengkapi pula dengan baju lain untuk dipakai dalam kunjungan silaturahmi dengan teman dan kerabat di bulan Syawal itu. Prinsip ibu yang masih kukenang sampai kini adalah jangan sampai kita ‘menjual kemiskinan’. Maksudnya, walaupun kami sebetulnya dari keluarga yang biasa-biasa saja cenderung pas-pasan, tapi jangan sampai kami menunjukkan kemelaratan di depan orang lain jika sekiranya hal itu akan menimbulkan rasa iba atau bahkan lebih jauh, cibiran yang merendahkan.
Tapi tak ada maksud menyombongkan diri pula jika kita mengenakan pakaian baru untuk menyambut Idul Fitri. Sejatinya, itu pun untuk mensyukuri nikmat yang telah dilimpahkan pada kami. Dalam beberapa kesempatan Idul Fitri, cukup sering kami berempat mengenakan pakaian yang nyaris seperti seragam. Tak jarang ibu membeli kain dan menjahit sendiri baju-baju untuk kami. Biar ketahuan kali... kami masuk 'clan' mana. Biar nggak gampang ketuker juga :p
Beberapa baju masa lalu itu, beberapa di antaranya memorable banget, ya karena modelnya, atau juga karena proses panjang yang dilaluinya hingga menjadi baju lebaran kami. Ibu senang menjahit sendiri baju-baju kami. Selain menyesuaikan dengan ukuran badan kami, juga sedikit banyak bisa menghemat pengeluaran untuk pos baju lebaran ini. Kami anak-anaknya pun tak jarang ikut berperan dalam proses pembuatannya. Aku sesekali diutus ke tukang obras langganan dengan membawa kain yang baru digunting sesuai pola. Kadang aku pergi juga untuk membeli benang, kancing atau ritsleting. Tak jarang pula kami ikut membantu memasang kancing atau mengelim baju hingga siap dikenakan . Proses ini sekaligus jadi pengingat beratnya jerih payah bapak dan ibu untuk memberi kebahagiaan pada kami di hari fitri yang dinanti-nanti. 
Baju brokat dengan model kembaran kecuali kakak sulungku.

Baju kotak-kotak buat jalan saat silaturahmi. The sulung ogah samaan :p
(mampir di Alun-alun Bandung buat foto-foto)
Kembaran baju merah hasil jahitan ibu. Aku suka kancingnya :D
Sebagai keluarga yang bukan termasuk golongan yang berkelebihan, persiapan lebaran pasti perlu budget extra yang bisa bikin sakit kepala hampir setiap orang tua, termasuk ibu dan bapak kami dulu. Kami diajari untuk tidak menuntut baju baru di setiap akhir Ramadhan, namun juga tetap rendah hati dan banyak bersyukur saat masih bisa mengenakan pakaian yang layak dikenakan di hari raya.
Tahun-tahun setelah bapak… lalu ibu pun tiada, baju lebaran itu tinggal jadi memori saja. Bila ada cukup dana yang bisa dialokasikan, aku bisa saja mengupayakan baju baru untuk dikenakan saat shalat eid, untuk menghormati hari raya itu, dengan mengenakan pakaian terbaik saat melaksanakan ibadah yang istimewa. Tapi kalaupun budget pas-pasan, aku cukup mengeluarkan pakaian koleksi lama yang ‘didaur-ulang’ dengan trik mix n match untuk memberikan kesan yang berbeda.
Idul fitri, bukankah esensinya adalah kembalinya kita pada kesucian, kebersihan hati, bukan kebersihan dompet gegara habis dibelanjakan sana-sini. Selamat menyambut hari raya yaa, semuanya.
#CeritaLebaran ini diikutsertakan di event giveaway-nya mbak Dian Andari Yuan. Ayo, kamu juga boleh banget berbagi #CeritaLebaran beserta keunikan tradisi dan memorinya. Cek syarat dan ketentuannya di sini yaa...

Minggu, 26 Juni 2016

Lebaran Chic Dengan Baju Muslim Restu Anggraeni

Jelang lebaran begini, orang mulai ramai bahas baju baru lagi deh buat lebaran. Nggak sekedar bahas baju barunya, tapi juga soal desain atau model bajunya. Tentu model paling trendi dan kekinian yang jadi incaran. Yang sedang trend belakangan ini adalah model gamis syar'i. Busana muslim kan mesti memenuhi kaidah syar'i itu tadi dong. Nah, yang syar'i itu yang gimana siih? Garis besarnya sih seperti poin-poin di bawah ini: 
  • Tidak tipis membayang
  • Tidak ketat membungkus badan
  • Tidak menyerupai gaya busana laki-laki
  • Dilengkapi dengan kerudung yang menjulur sampai menutupi dada
Nah, dengan panduan seperti tersebut di atas, hal ini tentu akan memudahkan kita untuk memilih busana muslim. Sebelum memilih, tentu masih banyak lagi pertimbangan sebelum memutuskan untuk mengambil salah satu atau bahkan lebih. Tidak hanya desain yang disuka, tapi juga seberapa cocok baju itu di tubuh kita, dan kecocokan dengan isi dompet tentunya. Kalau buatku, urusan dompet ini jadi pertimbangan terbesar siih. Hemat atau pelit? Udah susah ngebedainnya p
Pertimbangan lain buat pilih baju adalah kemudahan mengakses koleksi baju tersebut. Belakangan ini kayaknya malesin banget deh kalau mesti sesak-sesakan ke pasar baru atau menembus macet Bandung untuk mencapai rumah busana yang punya koleksi bagus. Belanja online bisa jadi alternatif nih untuk mendapatkan koleksi busana berkualitas dengan kemudahan metoda pembayaran. 
Sedikit berkelana di dunia maya, pencarianku mendarat di laman blibli.com. Web belanja online ini cukup terpercaya. Sebelumnya aku sudah pernah bertransaksi di blibli dan pelayanannya memuaskan. Barang diantar cepat dan kualitasnya terjaga. Jadi untuk belanja busana kali ini, bismillaah... kupercayakan pada blibli.
Restu Anggraeni Exclusive Collection for blibli.com
Pilihannya banyak sekali tersedia, mulai dari baju 'tanpa merek' hingga koleksi desainer kondang tanah air, ada nih di blibli. Dari beberapa desainer yang berkolaborasi dengan blibli, salah satu di antaranya adalah Restu Anggraeni. Desainer yang sudah punya beberapa lini busana ini juga ikut serta meluncurkan exclusive collection-nya untuk blibli. Model baju muslim terbaru, digelar Restu untuk blibli dengan beragam alternatif desain baju muslim modern yang juga tersedia dalam beberapa pilihan warna. Cantik-cantik semuaaa....!!! Pilih-pilih, cukup dengan menggerakkan mouse saja, dan tanpa perlu mendatangi butiknya, aku bisa mendapatkan item fashion berkualitas hanya dengan 'seujung jari'. 
Fairin Blouse-lavender. Restu Anggraeni for blibli.com
Ini salah satu yang jadi incaranku, fairin blouse dengan warna lavender. Bentuk blouse-nya cantik, dengan perbedaan panjang di bagian depan dan belakang. Modelnya memenuhi kaidah syar'i yang sudah kusebutkan di atas tadi. Desainnya yang longgar mengembang di bagian bawah menjamin bahwa bentuk badan tak akan tercetak. Bentuk lengannya menyamarkan ukuran lenganku yang sesungguhnya. Besar ataui kecil, tidak masalah jadinya. Warnanya yang lembut dalam nuansa ungu muda membuatku jatuh cinta. Nantinya, blouse ini bisa di-adupadankan dengan rok A-line atau celana panjang berpipa lurus untuk memberi kesan chic. Sementara kerudungnya, tak terbatas pilihannya. Polos atau corak, tinggal menyesuaikan dengan situasinya.
Setelah memasukkan fashion item incaran ini ke keranjang belanja, aku tinggal memilih metode pembayaran yang tidak kalah chic, bisa disesuaikan dengan keinginan pula. Bisa pilih pembayaran dengan opsi debet rekening atau kartu kredit, via bank mana saja sesuai pilihan kita. Mau transfer langsung atau cicil, bisa dipilih sesuai dengan kondisi dompet. Tunggu THR cair dulu kali ya, baru confirm pembelian ;)
Pada akhirnya sih, apapun pilihan kita mengenai busana ini, ujung-ujungnya diserahkan kepada kita. Mau beli baju baru untuk lebaran silakan. Pakai koleksi lama pun tak mengapa. Jika membeli baju baru jadi pilihan, sistem pembayarannya pun ada di dalam kendali kita. Selama masih bisa diupayakan, tidak berlebihan dan tidak merugikan orang lain, tentu dipersilakan.  Guideline-nya adalah mengukur diri sendiri yang pada intinya: just be yourself. Kenakan gaya sesuai pemahamanmu pada kaidah syar'i tadi. Jika keempat syaratnya sudah terpenuhi, bismillaah... Kalau bisa sekaligus syar'i dan gaya, itu lebih indah, bukan? Untuk memfasilitasinya, silakan pilih-pilih satu atau beberapa dari koleksi ekslusif untuk blibli ini. Silakan dipilih... dipilih... Siap berlebaran chic dengan baju muslim koleksi Restu Anggraeni? Aku sih siap. Gimana dengan kamu? ;)

Minggu, 06 Juli 2014

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Berawal dari keinginan untuk membuat hiasan dinding kaligrafi, aku mulai dengan mencoba bentuk kaligrafi yang kucontek dari gambar yang kudapat hasil googling. Modifikasi sedikit, huruf alif, lam, dan ra untuk 'Ar Rahman' dan 'Ar Rahiim' kubuat lebih panjang supaya panjangnya pas dengan lafadz 'Bismillah' di baris teratas. Gradasi warna biru kupakai hanya karena memang cuma itu warna yang ada di rumah. Haha...
Selesai dengan basmalah, sekalian saja kulanjut dengan menjahitnya jadi sebuah kantong. Terus terang saja, zipper di bagian atas kantong ini kujahit agak-agak asal. Asal nempel. gitu, nggak rapi-rapi amat. Tapi masih bisa difungsikan dengan baik. Niat awalnya, kantong ini akak kupakai sebagai kantong untuk membawa alquran, tapi ternyata quran-ku tak ada yang seukuran itu :( Mungkin akan kualihfungsikan untuk wadah mukena aja. Bismillaah...

Jumat, 31 Januari 2014

Celemek Bolak-Balik Lagi

Menjahit lagi. Sebetulnya memang tidak perlu waktu lama. Cuma beberapa jam saja. Itu pun sudah plus nyeterika sana-sini untuk membuat jahitan terlihat rapi. Dan ini dia hasilnya.
Batik madura yang kubeli tempo hari saat berkesempatan menyeberang via jembatan Suramadu jadi penghias di salah satu sisi celemek ini. Lilinnya masih lengket sedikit di sana-sini. Tapi ini menandakan bahwa ini adalah batik asli. Motifnya kebetulan memang menyerong, jadi sekalian aja dipotong sesuai arah motifnya lalu dijahit di bagian bawah celemek. Diberi dua saku di sambungan jahitannya, dengan ukuran yang nggak seragam. Njahitnya nggak pake ngukur-ngukur sih, cuma pake feeling aja. Haha...
Sisi lainnya adalah potongan dari selendang batik bergambar tumpal dan burung Phoenix. Legenda Phoenix yang unik, bahwa dia bisa hidup kembali dari abu pembakaran dirinya, jadi satu perlambang semangat yang selalu tumbuh kembali. Potongan tumpal dipasang di bagian dada dan saku. Gambar Phoenix kecil ada di bagian bawah tumpal, di bagian saku. Pas banget, dapat dua gambar Phoenix.

Sabtu, 15 Juni 2013

Rajinnya Bikin Event Giveaway

Beberapa crafter rajin banget bikin event giveaway. Salah satunya, Hayano Handmade yang kali ini menggandeng Maion Craftz untuk menggelar giveaway berhadiah unik, yaitu macaron pouch dan puffy pouch. Masing-masing 1, untuk 2 orang yang beruntung (berharap aku adalah salah satunya). Macaron pouch batiknya lucu sekali. Mau dong dapat satu. Maion, let me have one of it ya. Please... Ini dia gambarnya, contek dari blog-nya Hayano Handmade. Lucu kan...? 
Persyaratan untuk ikutan event-nya sudah aku penuhi. Tinggal duduk manis menunggu hasilnya aja. Untuk yang mau ikutan juga, silakan langsung meluncur ke TKP. Detilnya ada di sana, di blog-nya Hayano Handmade.

Jumat, 14 Oktober 2011

Celemek Batik Bolak-Balik

Menjawab tantangan dari Alfamart dalam event Photo Contest Batik Creative Challenge yang tenggat waktunya berakhir di hari Sabtu tanggal 15 ini, aku menjahit sebuah celemek bolak-balik. Pada intinya sih, karena aku malas pergi ke luar rumah untuk mencari tukang obras. Jadi amannya, aku jahit saja semua kampuh ke bagian dalam dan jadi celemek bolak-balik. Mudah, bukan? ;)
Kugunting bahan di hari sebelumnya, kutandai dengan rader dan karbon. lalu kutinggal. Di hari berikutnya baru kukerjakan semua tahap menjahit dan menyeterika dalam setengah hari saja. Hm... ternyata tidak lama ya menjahit sebuah celemek. Hasilnya? Tidak mengecewakan, kurasa.
Satu sisi dari celemek itu berupa batik berwarna ungu dengan dasar berwarna krem, dengan corak sulur dan burung yang kukombinasikan dengan kain bernuansa coklat. Kain batik berasal dari selendang yang sudah lama sekali mengendap di lemari. Daripada lapuk dimakan rayap, bukankah lebih baik bila dimanfaatkan? ;) Kupotong diagonal dan kujahit di atas kain coklat. Kantong besar di bagian depan dibuat sekaligus saat menambahkan saku besar untuk bagian sebaliknya dari celemek itu.
Di sisi lainnya kain coklat yang sama kukombinasikan dengan kain batik sisa yang akhirnya hanya cukup untuk menghias bagian dada dan ujung saku saja. Saku kujahit tindas bersamaan dengan pembuatan saku untuk celemek di bagian belakang. Jadi sekali menjahit, dua saku selesai sekaligus.

Selasa, 26 Juli 2011

Pakai Legging? Dilapis Lagi, Please...

Akhir-akhir ini, pemakaian legging makin populer rasanya. Celana kaos ketat ini tidak lagi dipakai sebagai dalaman, tapi makin banyak juga perempuan yang mengenakannya sebagai padanan t-shirt atau atasan jenis lain. Bahkan ibu-ibu tua dan muda, ikut pula mengenakannya. Gadis-gadis berkerudung pun kulihat banyak yang mengenakan legging sebagai padanan tunik (yang kadang pendek) sebagai busana sehari-hari. Sudah mulai salah kaprah nih.
Kutemukan gambar berikut ini di sebuah situs blog asing. Dari nada tulisannya, tertangkap adanya nada keberatan saat melihat orang lalu-lalang di jalanan hanya memakai legging sebagai padanan t-shirt. Hayu atuh, kita lapis lagi legging kita dengan celana longgar atau bahkan rok. Lengging hanya membungkus kulit, bukan menutupnya. Bukankah kalau pakai legging, bentuk kaki jadi makin kentara? Nah, sedangkan tujuan berbusana muslimah tuh sebenarnya untuk apa? Bukannya untuk menutup aurat? Supaya tidak terlihat warna ataupun bentuknya. Kalau begitu, yuk pakai pelapis lagi di atas legging. Please...